Features

Lebih dari Sekadar Kayu Ulin, Inilah Jantung Kehidupan Suku Dayak Barito

SUDUT KALTENG – ​Di sepanjang aliran Sungai Barito yang tenang, tersimpan sebuah warisan arsitektur yang menjadi saksi bisu perjalanan ratusan tahun suku Dayak.

Bagi masyarakat Ma’anyan, Bakumpai, hingga sub-suku Dayak di Barito Utara dan Selatan, Huma Betang bukan sekadar bangunan panggung.

Bangunan ini adalah sebuah monumen hidup yang merepresentasikan filosofi kebersamaan, toleransi, dan ikatan persaudaraan yang tak lekang oleh waktu.

Saat melangkah ke wilayah pedalaman Barito, mata kita akan dimanjakan oleh kemegahan rumah panggung tinggi yang berdiri gagah di atas tiang-tiang kayu ulin.

Pemilihan kayu ulin sebagai pondasi utama bukanlah tanpa alasa. Kayu “besi” ini adalah rahasia mengapa banyak Huma Betang mampu bertahan melawan cuaca ekstrem dan waktu.

Sementara desain panggung yang tinggi memiliki fungsi pragmatis, perlindungan dari banjir musiman, serangan hewan buas, hingga benteng pertahanan dari ancaman musuh di masa lampau.

​Berbeda dengan konsep hunian modern yang mengedepankan privasi individu, Huma Betang didesain memanjang dengan kapasitas yang luar biasa. Satu bangunan bisa menjadi rumah bagi 12 hingga 30 keluarga sekaligus.

Menariknya, meskipun setiap keluarga memiliki bilik ruang pribadi, mereka tetap berada di bawah satu atap yang sama.

Konsep inilah yang melahirkan semangat gotong royong yang kental, di mana urusan satu orang menjadi urusan seluruh penghuni rumah panjang tersebut.

Huma Betang adalah pusat gravitasi kehidupan sosial. Di rumah inilah denyut nadi masyarakat Dayak terasa nyata mulai dari musyawarah desa, upacara adat yang sakral, hingga canda tawa sehari-hari.

Ia adalah ruang belajar bagi generasi muda tentang nilai-nilai leluhur, sebuah tempat di mana toleransi dipraktikkan bukan sebagai teori, melainkan sebagai gaya hidup nyata dalam keseharian.

Bagi para pencinta sejarah, perjalanan menyusuri Sungai Barito wajib menyertakan kunjungan ke Rumah Betang Tambau di Kecamatan Lahei, Barito Utara.

Sebagai salah satu bangunan bersejarah yang berdiri sejak sekitar tahun 1918, rumah ini merupakan bukti fisik eksistensi budaya Dayak yang masih bertahan hingga saat ini.

Meski zaman terus berubah dan rumah-rumah modern mulai mendominasi, keberadaan Betang Tambau tetap berdiri kokoh, mengingatkan kita pada identitas asli masyarakat di sepanjang aliran Sungai Barito.

Kalimantan sendiri memiliki ragam rumah adat lainnya, di wilayah aliran Sungai Barito, Huma Betang tetap menjadi identitas utama yang paling dominan.

Bangunan ini bukan hanya tumpukan bambu, daun rumbia, dan kayu ulin yang dirakit oleh tangan-tangan terampil leluhur.

Huma Betang adalah simbol filosofi hidup masyarakat Dayak yang menjunjung tinggi kebersamaan dan kekeluargaan dalam satu keluarga besar yang harmonis.

Back to top button