Tjilik Riwut: Sang Visioner yang Pernah Mengusulkan Pemindahan Ibu Kota ke Palangka Raya
SUDUT KALTENG – Tjilik Riwut bukan sekadar nama yang terpatri pada bandara atau jalan protokol di Palangka Raya. Ia adalah pahlawan nasional, pejuang kemerdekaan, budayawan, hingga penulis ulung yang memiliki dedikasi luar biasa bagi bangsa Indonesia dan tanah kelahirannya, Kalimantan Tengah.
Lahir di Kasongan, Kabupaten Katingan, pada 2 Februari 1918, Tjilik Riwut dikenal sebagai sosok putra Dayak Ngaju yang memiliki kecintaan mendalam terhadap alam dan tanah leluhurnya. Julukan “orang hutan” yang sering ia sematkan pada dirinya sendiri bukanlah sebuah hinaan, melainkan kebanggaan atas kedekatannya dengan belantara Kalimantan.
Menyuarakan Kemerdekaan
Perjalanan hidup Tjilik Riwut adalah kisah tentang perjuangan yang melampaui batas-batas kesukuan. Sejak muda, ia telah membuktikan ketangguhannya dengan tiga kali mengelilingi Pulau Kalimantan menggunakan cara tradisional: berjalan kaki, menaiki perahu, dan rakit.
Karier jurnalistiknya dimulai pada tahun 1936, yang membawanya aktif di berbagai media seperti Harian Pemandangan dan Harian Pembangunan. Kebiasaan mencatat peristiwa dan mengamati kehidupan suku Dayak pun kelak dituangkannya ke dalam buku-buku monumental, seperti Sejarah Kalimantan (1952) dan Kalimantan Membangun (1979).
Pionir Militer dan Diplomasi Adat
Tjilik Riwut adalah sosok multitalenta. Di masa revolusi, ia tak hanya mahir memegang pena, tapi juga senjata. Salah satu catatan emasnya adalah memimpin Operasi Penerjunan Pasukan Payung pertama dalam sejarah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) di Desa Sambi, Kotawaringin Barat, pada 17 Oktober 1947.
Peristiwa heroik ini kini ditetapkan sebagai Hari Pasukan Khas (Paskhas) TNI-AU.Lebih dari itu, ia berperan dalam menyatukan 142 komunitas suku Dayak untuk menyatakan setia kepada NKRI. Puncaknya, pada 17 Desember 1946, ia mewakili masyarakat Dayak melakukan sumpah setia secara adat di hadapan Presiden Soekarno di Yogyakarta.
Palangka Raya dan Pemindahan Ibu Kota
Banyak yang tidak tahu bahwa sosok di balik berdirinya Palangka Raya sebagai ibu kota Kalimantan Tengah adalah Tjilik Riwut. Ia terjun langsung dalam pembangunan kota yang dulunya adalah hutan belukar bernama Pahandut.
Bahkan, jauh sebelum wacana pemindahan ibu kota Indonesia menjadi pembicaraan hangat di era modern, Tjilik Riwut adalah orang pertama yang mengusulkan pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Palangka Raya di hadapan Dewan Nasional.
Pertimbangannya sangat visioner, posisi Palangka Raya yang berada tepat di titik tengah Indonesia dianggap aman dari ancaman eksternal.
Warisan yang Abadi
Setelah mengabdikan diri sebagai Bupati Kotawaringin Timur, Gubernur pertama Kalimantan Tengah, hingga anggota DPR RI dan DPA, Tjilik Riwut wafat pada 17 Agustus 1987—bertepatan dengan HUT RI ke-42. Atas jasa-jasanya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 6 November 1998.
Kini, nama Tjilik Riwut tetap hidup di hati masyarakat. Semangatnya untuk menjaga kearifan lokal suku Dayak sekaligus memajukan bangsa melalui pembangunan berkelanjutan adalah warisan intelektual yang relevan bagi generasi muda Indonesia saat ini.
Generasi muda saat ini sepatutnya menjadikan pemikiran Tjilik Riwut sebagai inspirasi. Bahwa membangun daerah bukan sekadar membangun gedung, melainkan membangun kebanggaan dan kesejahteraan masyarakat dari akar rumput.
