Manisnya Cuan di Balik Pasar Wadai Shirathal Mustaqim Muara Teweh
SUDUT KALTENG, Muara Teweh – Suasana sore di kawasan depan Masjid Raya Shirathal Mustaqim, Muara Teweh, tampak jauh lebih hidup dan berwarna dari biasanya. Saat jarum jam mendekati waktu berbuka, denyut nadi keramaian berpindah ke deretan tenda Pasar Wadai Ramadhan.
Aroma harum kue tradisional bercampur dengan aneka takjil manis menyeruak, seolah memanggil siapa saja yang melintas untuk segera menepi.
Di tengah hiruk-pikuk, terselip cerita dari seorang pedagang kue basah langganan warga, biasanya dipanggil Julak Ujung. Pria yang sudah beberapa tahun rutin membuka lapak di pasar wadai ini mengaku, sejak hari pertama Ramadhan, dagangannya selalu laris manis diserbu pembeli hingga tak ada yang tersisa.
Baginya, antusiasme masyarakat tahun ini benar-benar terasa berbeda. Deretan kue tradisional andalannya mulai dari Amparan Tatak yang lembut, Kararaban, Kue Lapis yang legit, hingga Bingka khas Banjar sebenarnya sudah tersusun rapi sejak siang hari.
Namun, tak jarang sebelum azan Magrib berkumandang, meja jualannya sudah bersih tak berbekas. “Alhamdulillah, selalu habis sebelum azan Magrib,” ucap Julak Ujung sambil memberesi wadah-wadah kue miliknya dengan wajah sumringah.
Bagi Julak Ujung, yang kesehariannya juga berjualan di Pasar Rabu (Pasar Dermaga), Pasar Wadai bukan semata mencari keuntungan. Ia melihatnya sebagai momen emas untuk mencari berkah sekaligus mempererat tali silaturahmi dengan para pelanggan setianya.
“Biasanya pelanggan sudah tahu, sebab jika hari Rabu Julak jualan wadai di Pasar Dermaga,” katanya sambil tersenyum ramah.
Ikatan emosional antara pedagang dan pelanggan inilah yang membuat suasana pasar terasa begitu hangat dan personal di tengah kesibukan warga.
Ramadhan tahun ini di Muara Teweh memang membawa angin segar bagi para pelaku UMKM. Sejak resmi dibuka oleh Bupati Barito Utara, H. Shalahuddin, Pasar Wadai langsung dipadati warga yang antusias berburu takjil. Kehadiran pasar musiman ini menjadi oase bagi masyarakat yang ingin menyajikan hidangan berbuka istimewa bagi keluarga.
Tak hanya Julak Ujung, sejumlah pedagang lainnya pun merasakan kebahagiaan serupa dengan peningkatan omzet. Tentu saja, mereka berharap tren positif ini terus bertahan hingga akhir bulan suci Ramadhan, memberikan suntikan ekonomi yang berarti bagi rumah tangga mereka.
Lebih dari sekadar transaksi jual-beli, kehadiran Pasar Wadai juga berfungsi sebagai ajang promosi kuliner tradisional khas daerah. Harapannya, cita rasa warisan leluhur ini tetap dikenal dan digemari oleh generasi muda di tengah gempuran tren makanan kekinian yang terus berkembang.
Di tengah riuh suara pembeli dan kemeriahan sore di Muara Teweh, kisah para pelaku usaha kecil ini menjadi pengingat yang manis. Ramadhan tak hanya menghadirkan suasana religius yang khusyuk, tetapi juga membawa berkah ekonomi yang menghangatkan semangat para pedagang kecil di Barito Utara.(man)
