Features

Sang Penjaga Tradisi Pakaian Keliling di Tengah Gempuran Belanja Online

SUDUT KALTENGDi usia yang menginjak 45 tahun, Nuryana tidak menunjukkan tanda-tengah akan melambat. Sosok yang akrab disapa Anai ini adalah pedagang pakaian di sepanjang dermaga Sungai Barito.

Bagi masyarakat di sana, kehadirannya bagian dari tradisi yang tak terpisahkan dari denyut nadi ekonomi Barito Utara.

Warisan dari Masa Bujang Sang Suami

Perjalanan dagang ini ternyata bukan dimulai oleh Anai sendirian. Ada kisah cinta dan perjuangan di baliknya.

Bisnis pakaian keliling ini sebenarnya adalah rintisan sang suami sejak masa bujang.

Setelah menikah, Anai pun naik ke kapal, mendampingi sang suami menyusuri sungai demi sungai.

Kini, buah dari ketekunan mereka menyusuri pasar ke pasar telah membuahkan hasil yang manis, seorang putri semata wayang yang kini tengah menempuh pendidikan di jenjang SMA.

Demi masa depan sang buah hati inilah, pasangan suami istri asal Kelurahan Jingah, Kecamatan Teweh Baru ini rela bertarung dengan cuaca dan perubahan zaman.

Jadwal Padat Sang Penjelajah Sungai

Tinggal di Kelurahan Jingah tak membuat Anai berdiam. Setiap minggunya, ia melakoni rute yang melelahkan namun penuh makna.

Pada hari Kamis, ia berlayar menuju Pasar Lahei. Kemudian ​Jumat – Minggu menjelajahi Pasar Benao, Luwe, hingga Pasar Laung.​

Selama hampir satu minggu penuh, ia berpindah dari satu dermaga ke dermaga lain demi menjemput rezeki ditanah sebrang.

Anai mengenang masa kejayaannya sepuluh hingga dua puluh tahun lalu sebagai masa keemasan bagi para pedagang.

Dahulu, ia bahkan harus sering memesan tambahan stok pakaian dari Banjarmasin sebelum putaran pasarnya berakhir karena tingginya permintaan.

​Namun, wajah perdagangan kini telah berubah drastis seiring dengan kemajuan zaman dan teknologi.

Kehadiran e-commerce dan tren belanja online menjadi tantangan berat bagi pedagang fisik di pedalaman.

​”Dulu, sebelum era belanja online, jualan kain sangat ramai. Kadang putaran pasar belum habis, saya sudah harus order lagi ke Banjarmasin karena stok menipis,” kenang Anai saat ditemui di lapaknya, Rabu (18/03/2026).

Bertahan di Tengah Arus Digitalisasi

​H-3 Lebaran tahun ini membawa sedikit angin segar. Meski pasar tak seramai lima tahun lalu akibat gempuran toko daring.

Anai mengaku penjualan baju anak-anak di Pasar Dermaga hari ini cukup lumayan. Pundi-pundi rupiah bisa untuk kebutuhan lebaran.

Bagi pedagang tradisional, momen Ramadhan tetap menjadi harapan besar, meskipun tantangannya kian berat.

Terkadang lelah fisik dan pikiran kerap menghampiri. Namun Anai mengaku sulit untuk berpindah haluan.

Karena, berdagang pakaian keliling dari satu tempat ke tempat lain ini hanya satu-satunya mata pencaharian yang ia kuasai.

Harapan untuk Generasi Mendatang

Di balik senyum sederhananya, Anai menyimpan secercah kekhawatiran akan masa depan pasar tradisional.

Ia berharap agar pasar-pasar di sepanjang Barito tidak mati ditelan zaman.

Ia juga berpesan agar generasi muda, termasuk putrinya yang kini di bangku SMA tetap menghargai keberadaan pasar tradisional.

Sebab, di sanalah kehangatan interaksi manusia dan perputaran ekonomi rakyat kecil seperti dirinya bertumpu. (*/ant)

Back to top button