NasionalEkonomi dan Bisnis

BADAI MERAH IHSG: Akhir Relly Memukau atau Awal ‘Perang’ Strategi Baru Sang Jenderal Pasar?!

C. Jiah Mario: “Ketika badai datang, hanya mereka yang memahami angin yang akan berlayar dengan aman.”

SUDUT KALTENG, Jakarta – Ibarat gelombang pasang yang menerjang karang, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan ini dipaksa bertekuk lutut di hadapan kekuatan koreksi pasar, mengakhiri parade reli yang memukau. Dengan penurunan 0,36% atau terpangkas 25,81 poin ke level 7.188,35, alarm tanda bahaya seolah berbunyi di lantai bursa. Namun, bagi para “jenderal” pasar saham yang menguasai “Filosofi Seni Perang”, gejolak ini bukanlah akhir, melainkan permulaan strategi baru.

Sektor-Sektor Bertumbangan, Peluang Tersembunyi Menanti

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI, tujuh dari sebelas sektor kompak terjun bebas. Teknologi memimpin barisan dengan koreksi terdalam 2,05%, disusul properti dan real estate (1,47%), serta perindustrian (0,65%). Sektor-sektor yang selama ini menjadi primadona, kini seolah dihantam badai. Namun, C. Jiah Mario, seorang narasumber pasar modal, dengan bijak mengingatkan, “Gejolak pasar adalah keniscayaan. Investor yang bijak tidak panik saat pasar bergejolak, melainkan mempelajari pola volatilitas, memahami penyebabnya, dan mencari peluang di tengah ketidakpastian. Mereka yang bisa ‘membaca’ arah pasar saat terjadi koreksi atau krisis sering kali menemukan aset-aset yang undervalued dan berpotensi memberikan keuntungan besar saat pasar pulih.”

Di sisi lain, sektor barang baku (0,60%), energi (0,54%), dan kesehatan (0,34%) justru menunjukkan taringnya, bergerak menguat di tengah kelesuan pasar. Ini adalah sinyal, bahwa di tengah badai, selalu ada ‘pulau’ yang menawarkan perlindungan dan potensi pertumbuhan. Total volume perdagangan mencapai 35,37 miliar dengan nilai transaksi Rp 13,83 triliun, dengan 414 saham melemah dan 225 saham menguat. Ini menunjukkan dinamika tarik-menarik kekuatan yang intens di pasar.

Drama Rupiah dan Taruhan Global: Antara Profit Taking dan Kebijakan The Fed

Tak hanya IHSG, Rupiah pun ikut tertekan, ditutup melemah 0,11% di level Rp16.240/US$. Aksi profit taking di bursa saham domestik, seiring antisipasi investor terhadap pekan perdagangan yang hanya berlangsung tiga hari, menjadi salah satu pemicu. Namun, goncangan utama datang dari seberang samudra: pernyataan hawkish pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS) mengenai ketidakpastian pemangkasan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) pada September. Mayoritas mata uang Asia pun berbalik arah melemah, menjadi korban domino efek kebijakan moneter global.

C. Jiah Mario menyoroti, “Dalam ‘Seni Perang’, penting untuk memahami pergerakan lawan. Arah kebijakan The Fed, laju inflasi global, dan suku bunga acuan bank sentral adalah faktor-faktor krusial yang membentuk medan pertempuran. Kenaikan suku bunga acuan, meskipun bertujuan menekan inflasi, dapat membebani pertumbuhan ekonomi dan memicu aliran modal keluar dari pasar negara berkembang. Investor yang cerdas harus selalu mengamati geopolitik dan perubahan lanskap ekonomi dunia, karena itulah yang akan menentukan arah angin investasi.”

Meskipun tertekan hari ini, Rupiah mencatat penguatan sekitar 2,22% month-to-date. Posisi Rupiah sebagai mata uang dengan pelemahan terbesar di Asia sepanjang tahun kini digantikan oleh Dolar Hong Kong, sebuah penanda bahwa badai terburuk mungkin telah berlalu. Kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) pun melonjak, mencapai Rp916,7 triliun atau 14,45% dari total outstanding SBN, tertinggi sejak 1 Desember 2021. Ini adalah bukti kepercayaan investor asing terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang membaik.

Strategi “Wait and See” ala The Fed dan Kekuatan Transaksi Berjalan Indonesia

Gubernur Federal Reserve Bank of Minneapolis, Neel Kashkari, menegaskan bahwa perubahan besar dalam kebijakan perdagangan dan imigrasi AS menciptakan ketidakpastian bagi The Fed untuk mengubah suku bunga sebelum September. Perbincangan tarif oleh pemerintahan Donald Trump menjadi ganjalan utama. “Apa pun mungkin terjadi,” kata Kashkari, menekankan pentingnya menunggu data dan hasil negosiasi dagang. Pendekatan “wait and see” ini dianut banyak pembuat kebijakan The Fed, menunggu kejelasan dampak tarif terhadap ekonomi AS.

Di tengah ketidakpastian global, Indonesia memiliki kartu as berupa perbaikan neraca transaksi berjalan. Defisit transaksi berjalan pada kuartal I-2025 tercatat sebesar US$ 177 juta atau 0,1% dari PDB, jauh lebih kecil dibandingkan kuartal sebelumnya. “Defisit transaksi berjalan yang mengecil adalah tameng kuat bagi ekonomi kita. Ini menunjukkan ketahanan fundamental yang solid, menarik minat global fund yang mencari alternatif di tengah pelemahan dolar AS,” jelas C. Jiah Mario.

Ambisi dan Visi Jangka Panjang: Kunci Sukses di Pasar Saham

Harga komoditas global juga menjadi variabel penting yang memengaruhi dinamika pasar. Fluktuasi harga minyak, gas, dan mineral dapat berdampak langsung pada kinerja perusahaan-perusahaan di sektor energi dan barang baku, yang kebetulan hari ini menjadi motor penggerak IHSG. “Investor harus memiliki ambisi yang jelas dan visi jangka panjang,” tegas C. Jiah Mario. “Pasar saham bukanlah sprint, melainkan maraton. Kita harus siap menghadapi agresi pasar yang tak terduga, namun dengan strategi yang matang, setiap kemunduran dapat diubah menjadi pijakan menuju kemenangan.”

Di tengah koreksi IHSG hari ini, ada yang melihatnya sebagai ancaman, ada pula yang melihatnya sebagai kesempatan. PT Bank Jago Tbk (ARTO) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi top losers di LQ45, sementara PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) memimpin daftar top gainers. Ini adalah potret nyata dari prinsip “Seni Perang”: di setiap kekalahan ada pelajaran, di setiap kemenangan ada peluang. Bagi investor yang cerdas, ini adalah waktu untuk mengasah strategi, bukan panik.

Apa langkah selanjutnya yang akan Anda ambil di tengah gejolak pasar ini?

Disclaimer: Analisis ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Investor disarankan untuk melakukan riset dan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi.

Back to top button