Mengapa Pegunungan Muller Disebut Sebagai Jantung Pulau Kalimantan?
SUDUT KALTENG, Puruk Cahu – Jauh di kedalaman Pulau Borneo, sebuah bentang alam raksasa berdiri kokoh sebagai penjaga kehidupan. Pegunungan Muller, rangkaian pegunungan purba yang membentang melintasi tiga provinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur.
Pegunungan ini adalah detak jantung bagi ekosistem dan peradaban di tanah Kalimantan.​
Sebagian besar wilayah inti Pegunungan Muller bersemayam di Kabupaten Murung Raya, tepatnya di Kecamatan Sumber Barito, Kalimantan Tengah.
Dari titik inilah, keajaiban geologis tersebut meluas hingga menyentuh Kapuas Hulu di Kalimantan Barat dan bersinggungan dengan wilayah Kalimantan Timur dalam rangkaian legendaris Muller Schwaner.
Menjadi “Ibu” bagi Tiga Sungai Besar
Peran paling vital dari Pegunungan Muller adalah posisinya sebagai daerah tangkapan air utama.
Kawasan ini merupakan hulu dari tiga sungai raksasa yang menjadi urat nadi transportasi dan ekonomi masyarakat.
​Yakni Sungai Barito (Kalimantan Tengah & Selatan)​, Sungai Kapuas (Kalimantan Barat) dan ​Sungai Mahakam (Kalimantan Timur).
Tanpa kestabilan ekosistem di Muller, aliran air yang menghidupi jutaan jiwa di sepanjang sungai-sungai tersebut bisa terancam.
Inilah alasan mengapa kawasan ini kerap disebut sebagai “menara air” Kalimantan.
Antara Tragedi Kolonial dan Akar Budaya Dayak
Nama “Muller” sendiri membawa kita kembali ke masa kolonial. Nama ini diambil dari Georg Muller, seorang komandan perang Belanda yang nasibnya berakhir tragis di Jeram Bakang, Sungai Bungan.
Kisah tewasnya Muller menjadi catatan sejarah penting mengenai betapa menantangnya medan pedalaman Kalimantan bagi bangsa luar kala itu.
Namun, jauh sebelum bangsa Eropa datang, pegunungan ini adalah rumah suci bagi Suku Dayak Ot Danum.
Bagi masyarakat setempat, Pegunungan Muller bukan sekadar peta geografis, melainkan wilayah leluhur yang dijaga secara turun-temurun.
Kearifan lokal suku Dayak Ot Danum dalam mengelola hutan terbukti mampu menjaga kawasan ini tetap lestari hingga sekarang.
Benteng Terakhir Hutan Hujan Tropis
​Di tengah masifnya pembukaan lahan di berbagai sudut Borneo, Pegunungan Muller masih berdiri sebagai salah satu benteng terakhir hutan hujan tropis dunia.
Kerimbunan hutannya menyimpan biodiversitas yang tak ternilai harganya.​
Dengan perpaduan kekayaan alam yang melimpah, nilai sejarah yang mendalam, serta budaya yang kental, Pegunungan Muller adalah simbol keberlanjutan.
Menjaga Muller berarti menjaga masa depan Kalimantan, memastikan sungai-sungai tetap mengalir, dan menghormati jejak leluhur yang telah menjaga alam ini selama berabad-abad.(***)
