
Istimewanya Lailatul Qadar: Pasti, tetapi Tetap Misteri
Sudutkalteng.com – Ramadan 1446 H kini memasuki fase akhir. Sejak matahari terbenam pada Kamis, 20 Maret 2025, yang bertepatan dengan malam ke-21 Ramadan, kita telah memasuki sepuluh malam terakhir bulan yang penuh berkah ini.
Dalam hitungan hari, Ramadan akan berlalu. Tidak ada yang bisa memastikan apakah kita akan bertemu lagi dengannya tahun depan. Namun, yang bisa kita lakukan adalah mengisi hari-hari terakhir ini dengan sebaik mungkin dan berpisah darinya dengan penuh penghormatan.
Berada di penghujung bulan Ramadan adalah sebuah anugerah yang patut disyukuri. Ini menjadi momen yang tepat untuk merefleksikan amalan yang telah kita lakukan selama bulan suci ini.
Sepuluh malam terakhir Ramadan adalah waktu terbaik untuk meningkatkan amal ibadah dengan lebih sungguh-sungguh. Sebab, di dalamnya terdapat malam yang sangat mulia dan berkah, ia lebih baik daripada seribu bulan yaitu Lailatul Qadar. Malam istimewa ini menjadi momen yang paling dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia.
Kepastian serta keutamaan malam ini tertuang dalam firman Allah SWT, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1-3)
Menariknya, dalam ayat ini, kata Lailatul Qadar disebut tiga kali secara berurutan. Hal ini menegaskan keagungan dan kemuliaannya, sehingga maknanya lebih mendalam dan meresap ke dalam hati kita.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:”Carilah Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.” (HR. Bukhari & Muslim).
Pada malam Lailatul Qadar tersebut, Allah SWT mengabulkan doa-doa hamba-Nya dan mengampuni dosa-dosa mereka, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa yang beribadah pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari)
Kapan Lailatul Qadar Terjadi?
Para ulama memiliki berbagai pendapat mengenai waktu terjadinya Lailatul Qadar. Mayoritas sepakat bahwa malam mulia ini terjadi pada sepuluh hari terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil yaitu malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29.
Namun, kapan tepatnya? Itu tetap menjadi misteri. Banyak ulama dan mufasir berpendapat bahwa ketidakjelasan ini adalah bagian dari hikmah Allah SWT. Hal tersebut dirahasiakan waktunya agar umat Islam berusaha mencarinya dan mendapatkan pahala yang besar.
Rasulullah SAW juga tidak pernah menyebutkan waktu atau tanggal pastinya, hanya memberi petunjuk bahwa ia berada di sepuluh malam terakhir dan lebih mungkin terjadi pada malam-malam ganjil.
Syekh Ali Jumah, ulama besar dari Mesir mengatakan bahwa Lailatul Qadar tidak dapat diketahui secara pasti karena kebijaksanaan Allah SWT. Menurutnya, Lailatul Qadar dirahasiakan oleh Allah, sebagaimana Dia menyembunyikan waktu mustajab di hari Jumat dan sejumlah waktu afdhal lainnya.
Para ulama memiliki pendapat yang berbeda-beda tentang penentuan waktu malam mulia itu.
Mereka telah banyak menyampaikan tanda-tanda Lailatul Qadar, seperti Ibnu Rajab al Hambali dalam kitabnya Lathaiful Maarif, begitu juga dengan ulama kontemporer seperti Duktur Umar Hasyim, ulama hadits dari Al-Azhar Mesir yang menjelaskan tanda-tanda Lailatul Qadar dan sejumlah ulama lainnya.
Namun, perbedaan pendapat tentang waktu pastinya mengajarkan kita untuk tidak bergantung pada tanda-tanda, melainkan berusaha mencari malam tersebut dengan sungguh-sungguh.
Para ulama telah menegaskan bahwa Lailatul Qadar dirahasiakan oleh Allah, sebagaimana Dia menyembunyikan waktu mustajab di hari Jumat dan waktu lainnya.
Fokus Amalan; Sepuluh Malam Tanpa Spekulasi
Bayangkan ada 10 kotak, dan salah satunya berisi hadiah istimewa, tetapi kita tidak tahu kotak mana yang memilikinya. Apa yang harus kita lakukan? Tentu kita akan membuka semua kotak satu per satu agar tidak melewatkan hadiahnya.
Begitu pula dengan Lailatul Qadar. Karena waktu pastinya tidak diketahui, cara terbaik untuk mendapatkannya adalah dengan menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir Ramadan. Jangan menunggu malam ganjil tertentu atau berspekulasi kapan tepatnya malam itu terjadi.
Manfaatkan malam-malam ini dengan memperbanyak shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, bershalawat, tasbih, istighfar, serta melakukan i’tikaf. Jika tidak bisa beri’tikaf di masjid, kita tetap bisa beribadah di rumah dengan penuh kekhusyukan. Yang terpenting bukanlah tempatnya, melainkan keikhlasan dan kualitas ibadah kita.
Sayyidah Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, jika aku menemui Lailatul Qadar, doa apa yang sebaiknya aku panjatkan?” Rasulullah menjawab: “Bacalah: Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai ampunan, maka ampunilah aku.” (HR. Tirmidzi).
Rasulullah SAW senantiasa meningkatkan ibadahnya pada 10 malam terakhir Ramadhan dengan lebih bersungguh-sungguh. Dari Aisyah RA, beliau berkata: “Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir Ramadhan, Rasulullah SAW mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menjadi bukti bahwa sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan memiliki keutamaan dibanding hari-hari lainnya dalam hal peningkatan ketaatan dan ibadah, termasuk salat, zikir, dan membaca Al-Qur’an.
Sebagai penutup, mengutip nasehat mufti Mesir Nazir Mohammed Ayyad, bahwa Lailatul Qadar bisa terjadi pada salah satu malam di sepuluh hari terakhir Ramadan. Maka Jangan lewatkan kesempatan ini. Bersungguh-sungguhlah dalam shalat, doa, istighfar, dan qiyamullail.
Sebelum Ramadan berlalu, mari kita manfaatkan momen ini sebaik-baiknya. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar. Amin.
Muhammad Nasril, Lc. MA (ASN Kemenag Aceh Besar & Mahasiswa S3 Hukum Islam UIN Jakarta – Awardee BIB Kemenag-LPDP)