Korban Keracunan MBG di Sidoarjo Tembus 512 Orang
SUDUT KALTENG, Muara Teweh – Ratusan santri dan siswa di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan massal usai mengonsumsi hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga kini, pihak terkait terus melakukan penanganan medis serta menelusuri penyebab keracunan.
Deputi Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN), Ketut Sumedana, mengungkapkan bahwa berdasarkan data investigasi lapangan, total korban terpapar mencapai 512 orang.
“Kemudian yang masih dilakukan perawatan sekitar 80 orang dan sudah keluar dari rumah sakit, yang sudah dinyatakan sembuh sebanyak 315 orang. Namun demikian, kita juga masih melakukan observasi sebanyak 120 orang,” ungkap Ketut, Rabu (2/9/2026).
Kecarunan massal ini berawal usai para santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Tanggulangin, menyantap menu MBG selepas salat Dzuhur.
Tak lama kemudian, sejumlah santri tingkat MTs (SMP) dan MA (SMA) mengeluhkan mual serta muntah. Jumlah korban terus bertambah hingga harus dievakuasi ke beberapa rumah sakit terdekat.
Berdasarkan kesaksian sejumlah santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, olahan sayur dalam paket menu MBG tersebut memiliki rasa dan aroma kecut saat dikonsumsi.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, meyatakan bahwa kasus keracunan tidak hanya menimpa santri Ponpes Manba’ul Hikam, tetapi juga menyasar siswa dari beberapa sekolah lain.
​”Ada kesamaan sumber makanan. Seluruh korban mengonsumsi hidangan yang diproduksi oleh dapur penyedia yang sama, yaitu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin,” jelas Emil.
Dapur SPPG Kalitengah diketahui memproduksi sekitar 2.800 porsi makanan MBG setiap harinya. Sebanyak 1.000 porsi disalurkan ke Ponpes Manba’ul Hikam, sementara 1.800 porsi sisanya didistribusikan ke 19 lembaga pendidikan lain di sekitarnya.
Menindaklanjuti kejadian ini, BGN memutuskan untuk menghentikan sementara operasional SPPG Kalitengah.
“Operasional SPPG kami hentikan sementara sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium selama satu minggu ke depan,” tegas Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo.(***)















































