Nasional

Cegah Patek Cabai, BRIN Kembangkan Biopestisida Minyak Atsiri

SUDUT KALTENG, Cibinong – Penyakit antraknosa atau yang populer dikenal para petani sebagai patek masih menjadi salah satu ancaman terbesar bagi budidaya cabai. Penggunaan pestisida kimia sintetis yang berlebihan kerap menjadi jalan pintascanai, padahal dampaknya buruk bagi kesehatan manusia, lingkungan, hingga ketahanan organisme pengganggu tumbuhan (OPT).

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan solusi ramah lingkungan berbasis bahan alami. Peneliti Riki Warman mengolah kombinasi tiga minyak atsiri serai wangi, cengkeh, dan eukaliptus menjadi biopestisida organik yang efektif menekan jamur penyebab patek.

“Campuran minyak atsiri serai wangi, cengkeh, dan eukaliptus mampu menghambat pertumbuhan cendawan patogen penyebab penyakit antraknosa pada cabai,” kata Riki dalam webinar EstCorps Corner, Jumat (14/8/2026).

Riki menjelaskan bahwa gabungan ketiga minyak atsiri tersebut terbukti mampu menghambat pertumbuhan cendawan patogen Colletotrichum scovillae dan C. truncatum pada tanaman cabai.

Meski berpotensi tinggi, penggunaan minyak atsiri murni di lapangan kerap terkendala. Sifatnya yang mudah menguap, tidak tahan sinar ultraviolet (UV), larut rendah dalam air, serta terbilang rapuh saat terkena air hujan membuat efektivitasnya cepat menurun.

Untuk melindunginya, BRIN menerapkan teknologi nanoenkapsulasi. Teknologi ini mengemas senyawa aktif minyak atsiri agar terlepas secara perlahan (slow-release) dan bekerja lebih stabil di tanaman.

“Melalui teknologi nanoenkapsulasi, efisiensi pelepasan lambat (slow-release) minyak atsiri dapat dioptimalkan sehingga daya simpan dan efektivitas formulasi biopestisida meningkat,” ungkanya.

Riki menjelaskan, formulasi nanoemulsi konsorsium minyak atsiri dikembangkan menggunakan metode nanoemulsifikasi inversi fase. Tahap awal dilakukan dengan mencampurkan minyak atsiri serai wangi, cengkeh, dan eukaliptus dengan rasio 5:1:2, bersama surfaktan dan ko-surfaktan.

Campuran kemudian diaduk pada kecepatan 700–1.000 rpm hingga homogen. Pada tahap berikutnya, kata Riki, air yang telah ditambahkan kitosan 1% dimasukkan ke dalam campuran dan diaduk dengan kecepatan yang sama selama 60 menit.

Nanoemulsi yang dihasilkan selanjutnya dicampurkan dengan matriks nanokapsul berupa maltodekstrin. Campuran tersebut kemudian diaduk dengan kecepatan 12.000 rpm selama 15 menit dan dikeringkan menggunakan spray drying hingga menghasilkan serbuk nanoenkapsulasi konsorsium minyak atsiri.

Hasil pengujian di laboratorium menunjukkan bahwa serbuk enkapsulasi campuran minyak atsiri mampu menghambat pertumbuhan patogen Colletotrichum scovillae dan C. truncatum, yang merupakan penyebab penyakit antraknosa pada cabai.

Formulasi dengan rasio nanoemulsi terhadap matriks 5:1 dan 6:1 menunjukkan karakteristik fisik yang optimal. Ukuran partikelnya berada pada kisaran rata-rata 209,6-363,0 nanometer dengan stabilitas koloid yang tinggi, ditunjukkan oleh nilai zeta potensial sebesar -35,0 mV.

“Nanoenkapsulasi yang kita buat ini menunjukkan aktivitas penghambatan yang signifikan hingga hari ke-14 yang stabil. Meskipun efikasi formulasi ini masih di bawah fungisida kimia, harapannya nanoenkapsulasi ini dapat kita gunakan untuk mengendalikan patogen di lapangan untuk pertanian berkelanjutan ke depannya,” pungkasnya. (***)

Back to top button