Peristiwa

Gempa M 77 Guncang NTT: 14 Orang Dilaporkan Meninggal Dunia

SUDUT KALTENG, Jakarta – Gempa bumi kuat bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 14 orang meninggal dunia akibat musibah ini, berdasarkan data sementara yang masih terus diverifikasi di lapangan.

Berdasarkan pemutakhiran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di laut pada kedalaman 15 kilometer, berjarak sekitar 38 kilometer arah timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.

Di Kabupaten Nagekeo, guncangan kuat dirasakan warga selama kurang lebih satu menit. Sebagian besar masyarakat berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.​

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nagekeo langsung berkoordinasi dengan instansi terkait dan mengarahkan evakuasi masyarakat di wilayah pesisir menyusul adanya peringatan dini tsunami saat awal gempa terjadi.

Kondisi serupa dilaporkan terjadi di Kabupaten Sikka dan Kabupaten Manggarai Barat. Petualangan guncangan dahsyat memaksa warga pesisir di kedua wilayah tersebut turut dievakuasi ke tempat yang lebih aman.

Selain di NTT, gempa juga dirasakan cukup kuat di Kota Bima (Nusa Tenggara Barat) serta beberapa wilayah di Sulawesi Selatan, seperti Kabupaten Jeneponto, ​Kabupaten Kepulauan Selayar dan ​Kabupaten Maros.

Pascagempa utama M 7,7, BMKG mencatat beberapa kali aktivitas gempa susulan (aftershocks), di antaranya M 6,2 pada pukul 05.13 WIB​, M 6,2 pada pukul 05.28 WIB, ​M 5,6 pada pukul 05.37 WIB​, Serta beberapa gempa susulan lainnya dengan kisaran magnitudo 5,5. Rangkaian gempa susulan tersebut tidak berpotensi memicu tsunami.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menyampaikan rasa keprihatinan yang mendalam atas dampak musibah ini dan mengonfirmasi bahwa status peringatan dini tsunami telah resmi dicabut.​

“Peringatan dini tsunami sudah dinyatakan berakhir, namun gempa susulan masih terus terjadi. Kami berharap masyarakat tetap tenang, tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab, serta selalu memperbarui informasi dari saluran resmi BMKG,” ucapnya.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan dalam konferensi pers bahwa gempa bumi ini dipicu oleh aktivitas sesar naik busur belakang Flores (Flores Back Arc Thrust).

​“Ini adalah mekanisme gempa yang diakibatkan oleh sesar naik busur belakang Flores,” jelasnya.

Menurut Wijayanto, sesar ini memiliki potensi memicu gempa hingga Magnitudo 7,8 hingga 7,9. Karakteristik ini mengingatkan pada peristiwa sejarah gempa bumi besar yang pernah melanda kawasan tersebut puluhan tahun silam.

​“Dari sejarah yang ada, di tahun 1992 pernah terjadi gempa dengan magnitudo 7,5 yang menyebabkan kerusakan parah. Jadi, setelah lebih dari 30 tahun, kejadian serupa terulang kembali. Kami akan terus memonitor aktivitas gempa susulannya,” katanya.(*)

Back to top button