Peristiwa

​”Ibu, Mandala Lupa Kalau Anak Yatim”, Kalimat Terakhir Siswa SMK di Samarinda Sebelum Wafat Akibat Sepatu Sempit

SUDUT KALTENG, Samarinda – Mandala Rizky Syahputra (16), seorang siswa kelas 2 SMK di Samarinda, Kalimantan Timur, mengembuskan napas terakhirnya.

Bukan karena kecelakaan atau penyakit bawaan kronis, nyawa remaja yatim ini terenggut bermula dari hal yang sering dianggap sepele, sepatu sekolah yang kekecilan.

Mandala, yang tinggal di Jalan Tarmidi, Sungai Pinang Luar, harus menahan perih setiap hari selama berbulan-bulan.

Meski ukuran kakinya telah mencapai nomor 44, kondisi ekonomi keluarga yang sulit memaksanya tetap menggunakan sepatu sekolah berukuran 40.

Demi menuntut ilmu, Mandala melakukan cara kreatif sekaligus menyedihkan untuk meredam rasa sakitnya.

Ia menyelipkan pembungkus buah ke dalam sepatunya sebagai pelapis agar gesekan tidak terlalu menyiksa.

​”Tapi dia tetap pakai sepatu itu,” kenang sang ibu, Ratnasari.

Kondisi kesehatan Mandala mulai menurun drastis saat ia menjalani program magang sebagai pramuniaga di salah satu pusat perbelanjaan di Samarinda.

Tuntutan pekerjaan yang mengharuskannya berdiri sepanjang hari membuat luka lecet di kakinya semakin parah.​

Luka membengkak, memerah, dan akhirnya mengalami infeksi hebat. Infeksi inilah yang diduga menjadi pintu masuk komplikasi kesehatan lainnya.

Nafsu makan Mandala anjlok drastis, tubuhnya kian kurus, dan kondisinya melemah secara keseluruhan.

“Ibu, Bisa Tidak Belikan Mandala Sepatu?”

​Di balik ketegarannya membantu keluarga, terselip sebuah permintaan sederhana yang menghancurkan hati siapa pun yang mendengarnya.

Sebelum kondisinya kritis, Mandala sempat mengutarakan keinginan untuk memiliki sepatu baru yang layak.

Namun, keterbatasan biaya membuat sang ibu terpaksa menunda keinginanya.

​”Dia bilang, ‘Bu, bisa tidak belikan Mandala sepatu?’ Saya bilang nanti dulu,” cerita Ratnasari sambil menahan tangis.

Jawaban Mandala setelah itu sungguh menyayat hati, “Mandala lupa kalau Mandala anak yatim.”

​Upaya pengobatan sempat dilakukan, namun karena himpitan ekonomi, penanganan medis yang didapat tidak maksimal.

Infeksi yang sudah menjalar ke seluruh tubuh membuat pertahanan fisik Mandala runtuh.​Remaja yang dikenal rajin ini ditemukan meninggal dunia dalam tidurnya pada Jumat (24/5/2026).

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan rekan-rekannya, sekaligus menjadi pengingat bagi kita semua.

Di balik tembok-tembok sekolah, masih ada siswa yang harus bertaruh nyawa hanya untuk sepasang sepatu yang pas di kaki.(red)

Back to top button